Apakah melakukan branding UMKM itu penting? Apakah proses branding bisa terjadi tanpa disadari dan disengaja?
Pada kesempatan kali ini, kami akan memperjelas posisi branding dalam sebuah proses perkembangan Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM).
Pada dasarnya, tujuan dari melakukan branding adalah memberi identitas untuk produk, baik produk jasa maupun barang.
Contoh mudahnya, sebuah UMKM memiliki produk joran pancing lokal. Nah, di suatu daerah di Indonesia, ketika seorang pemancing sedang mencari joran pancing lokal, maka langsung teringat oleh merek dari UMKM tersebut.
Dari contoh tersebut, dapat Anda ambil kesimpulan kiranya melakukan branding penting dan urgent atau tidak.
Secara singkat, ya, branding UMKM penting!
Branding yang dilakukan secara terus menerus dan masif, kemudian berhasil, akan memberi pengenalan produk yang luar biasa.
Misalnya saat konsumen berbicara tentang pompa air, akan teringat merek Sanyo. Saat konsumen berbicara tentang air mineral dalam kemasan, akan teringat merek Aqua.
Alasan Branding UMKM Harus Dilakukan Secara Masif dan Berkelanjutan
Di era yang serba digital seperti sekarang, branding dianggap lebih mudah. Namun pada waktu bersamaan, juga membawa tantangan baru bagi sebuah UMKM.
Tantangan di internet terkait dengan memperjelas persaingan antara satu merek dengan merek lainnya.
Misalnya, calon konsumen sebelum membeli produk, dapat dengan mudah membandingkan harga secara langsung antara beberapa merek sekaligus.
Bisa juga dari tawuran promo siapa yang paling besar potongan harga. Atau persaingan menggunakan paid ads yang notabene lebih dikuasai oleh perusahaan yang sudah raksasa.
Terlepas dari berbagai tantangan branding merek untuk UMKM di zaman sekarang, berikut alasan aktivitas branding penting dan urgent.
1. Branding UMKM untuk Membangun Identitas Produk
Perlu Anda perhatikan bahwa melakukan aktivitas branding tidak seperti Bandung Bondowoso membangun 1.000 candi dalam semalam. Prosesnya membutuhkan waktu, yang kebanyakan tidak singkat.
Agar memahami pentingnya branding untuk membangun identitas produk, kami akan memberi contoh dari perusahaan Sinar Sosro.
Perusahaan Sinar Sosro, terkenal dengan Teh Botol Sosro yang punya rasa original. Namun seiring berkembangnya minat, konsumen juga suka dengan teh yang ada rasanya.
Namun, apakah Sinar Sosro memberi varian baru Teh Botol Sosro Rasa Jeruk, misalnya? Tidak.
Ia mengeluarkan produk baru, Fruit Tea, yang memiliki identitas sebagai teh rasa-rasa. Agar identitas produk Teh Botol Sosro sebagai teh rasa original tidak pudar.
Dalam hal ini, kita dapat menyimpulkan identitas suatu produk sangatlah penting. Identitas dari Teh Botol Sosro adalah teh original, sedangkan identitas Fruit Tea adalah teh rasa-rasa, yang mana keduanya berasal dari satu rahim yang sama.
2. Branding untuk Membangun Kredibilitas UMKM
Alasan pentingnya melakukan aktivitas branding selanjutnya untuk membangun kredibilitas atau kepercayaan atas UMKM itu sendiri.
Masih dari contoh Teh Botol Sosro dan Fruit Tea di atas. Konsumen lebih percaya jika, sebuah produk memberi sesuatu yang spesifik, tidak ada duanya, dan eksklusif.
Bayangkan jika Sinar Sosro, memberi varian Teh Botol Sosro Rasa Jeruk. Apa yang akan terjadi? Kemungkinan besar kepercayaan konsumen, yang sebelumnya sudah membekas, akan mulai pudar.
Branding secara spesifik, satu produk untuk satu varian yang khusus, akan meningkatkan kredibilitas UMKM. Jadi goal-nya di sini adalah: ketika konsumen cari teh rasa original, maka pilih Teh Botol Sosro. Dan ketika konsumen cari teh rasa-rasa buah, maka pilih Fruit Tea. Mereka percaya? Ya, konsumen menaruh kepercayaan karena satu produk hanya berfokus pada satu fokus yang spesifik.
Hal serupa sebenarnya juga bisa diterapkan pada produk jasa. Seorang content creator yang fokus pada review produk motor misalnya, jauh lebih mendapat kepercayaan daripada content creator gado-gado, yang mereview produk tanpa memiliki fokus khusus.
3. Branding UMKM sebagai Sarana Komunikasi antara Produsen dan Konsumen
Berikutnya bahwa UMKM yang notabene masih berkembang, perlu membangun pelanggan loyal, yaitu target pasar yang akan membeli produknya.
Dalam proses membangun pelanggan loyal ini, perlu komunikasi dua arah antara produsen dan konsumen. Di mana sarana komunikasi yang efektif di era sekarang adalah melalui media sosial.
Oleh karenanya, branding UMKM di media sosial menjadi langkah jitu yang akurat dan efisien. Sarana lain adalah dengan situs web, pihak produsen memberi informasi terkini terkait produk mereka. Antara media sosial dan situs web haruslah terdapat kolom komentar, atau setidaknya halaman kontak agar konsumen bisa berkomunikasi. Setelah komunikasi terjadi, akan terbentuk sebuah kedekatan antara konsumen dan produsen. Jangka panjangnya konsumen berubah menjadi pelanggan loyal, karena pihak produsen (UMKM) ternyata memberi layanan bagus untuk produk-produknya.
4. Branding sebagai Sarana Menyampaikan Nilai atau Value Produk UMKM
Konsumen membeli produk yang mereka butuhkan adalah hal yang wajar. Tetapi apakah Anda berpikir bahwa konsumen akan membeli produk karena melihat nilainya, terlepas apakah produk itu dibutuhkan atau tidak?
Kemungkinan itu masih sangat mungkin terjadi, salah satunya dengan melakukan aktivitas branding secara masif dan berkelanjutan.
Contoh gampangnya, di media sosial Facebook misalnya, sebuah UMKM setiap hari rutin membagikan aktivitas branding. Tentunya dengan copywriting maupun visual yang menarik.
Branding yang terus-menerus, bahwa produk ini telah berhasil mengatasi masalah dari konsumen lain. Contohnya produk salep BPOM yang bisa mengatasi kurap selangkangan dalam dua hari tanpa meninggalkan bekas.
Potensi konsumen yang akan membeli produk bukan hanya mereka yang mengalami masalah kurap selangkangan, tetapi juga mereka yang ingin mengantisipasi terjadinya.
Proses branding yang sebaiknya dilakukan UMKM adalah menjelaskan cara kerjanya, komposisinya, hingga dampak buruk jika timbul masalah kurap di selangkangan.
Guna mendapat semua benefit jangka panjang untuk usaha berkelanjutan, branding UMKM sangat penting. Strategi dan prosesnya bisa Anda sesuaikan dengan jenis produk, serta keadaan UMKM itu sendiri.


Add a Comment